Senin, 12 November 2012

Resume Sosum


MK Sosiologi Umum (KPM 130)        Hari/Tanggal: Selasa/18 Sept 2012
     Praktikum ke: 3

STRUKTUR INTERAKSI KELOMPOK ELIT DALAM PEMBANGUNAN
Penelitian di Tiga Desa Santri
Oleh: Sunyoto Usman

TOLONG BANTU PERBAIKI PERTANIAN KAMI
Oleh: Muhammad Syaifullah

Nama Praktikan/NRP/Kelas: Arum Safriana Dewi/F24120102/Q04
Nama Asisten/NRP: Apriliana/H44090027
 

Ikhtisar Bacaan 1
STRUKTUR INTERAKSI KELOMPOK ELIT DALAM PEMBANGUNAN
Penelitian di Tiga Desa Santri
Oleh: Sunyoto Usman

Secara umum orang mengartikan kata elit sebagai sesuatu yang glamor, penuh dengan kemewahan. Namun dalam sosiologi pengertian elit adalah mereka yang dalam masyarakat sekitarnya dihormati, menjadi panutan dalam bertindak dan sebagai sosok yang memiliki pengaruh penting dalam setiap pengambilan keputusan. Ada dua pendapat tentang lahirnya kelompok elit. Pertama yaitu pendapat yang meyakini bahwa kelompok elit ada karena anugerah Tuhan, berupa anugerah kepandaian, kemampuan, dan keterampilan dalam mengatasi masalah. Pendapat kedua percaya bahwa kelompok elit lahir karena mereka mendominasi dan menempati posisi penting dalam suatu organisasi sosial.
Di pedesaan, kelompok elit meliputi pamong desa, pemuka agama, dan petani kaya. Ketiga kelompok elit ini mempunyai peran penting sebagai perantara antara masyarakat dengan pemerintah. Namun tidak selamanya semua kelompok elit tersebut berjalan bersama-sama. Dalam kenyataannya, ada kelompok elit yang menonjol, dan sebagian terkesampingkan. Untuk mengungkap fenomena tersebut, dilakukan penelitian di tiga desa santri di Jombang, Jawa Timur yang difokuskan pada struktur interaksi kelompok elit dalam masyarakat yang kuat menjalankan syariat Islam. Penelitian diorientasikan pada tiga macam proyek pembangunan, yaitu Supra Insus Padi, Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI), dan Bantuan Desa. Aspek yang dibahas adalah integritas. Dengan tiga macam pendekatan, yaitu mencari individu dengan posisi penting dalam masyarakat, wawancara pengklasifikasian tokoh sebagai panutan masyarakat, dan melihat langsung tokoh dalam mengambil keputusan. Selanjutnya untuk menghitung data digunakan sistem network analysis yang dapat mengidentifikasi peranan para elit.
Berdasarkan hasil network analysis menunjukkan bahwa kelompok elit yang berkontribusi aktif dalam proyek pembangunan desa adalah pamong desa. Sedangkan petani kaya dan pemuka agama kurang menjalin interaksi. Bahkan sejumlah elit pemuka agama terisolir. Untuk derajat integrasi, pamong desa dan sebagian petani kaya menduduki posisi unggul. Sedangkan derajat integrasi pemuka agama adalah nol.
Hasil penelitian tersebut menggambarkan betapa dominannya tokoh pimpinan formal dalam pembangunan wilayah dan terkesampingkannya pemuka agama sekalipun itu di daerah santri. Hal tersebut juga merupakan cerminan struktur interaksi dalam kehidupan masyarakat luas. Sehingga jelaslah betapa beratnya beban bagi pimpinan formal karena menghadapi masyarakat majemuk, tentunya dengan permasalahan yang jauh lebih kompleks. Oleh karena itu, interaksi antar kelompok elit perlu diubah agar lebih kompak dan bersama-sama saling membantu dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

Ikhtisar Bacaan 2
TOLONG BANTU PERBAIKI PERTANIAN KAMI
Oleh: Muhammah Syaifullah

            Ade Suharso, Kepala Seksi Konservasi Taman Nasional Kutai wilayah Tanjung Limau bersama beberapa jagawan mengadakan pertemuan dengan tokoh masyarakat di Kondolo yang berhasil diliput Kompas. Kepala Dusun Kondolo mengatakan terpaksa membuka hutan untuk kelangsungan hidup masyarakatnya karena pada umumnya pekerjaan masyarakat Kondolo adalah membuat kayu arang. Pekerjaan yang tadinya bersawah terhenti karena dilanda kekeringan dan hama tikus dua tahun terakhir.
            Kedatangan para jagawan ini mendapat perlawanan dari warga. Berbagai tindakan dilakukan warga sebagai upaya menolak kegiatan Balai Taman Nasional Kutai dalam menyelamatkan kawasan hutan di daerah ini.
Ade Suharso berpendapat bahwa aksi membuka hutan bukan semata-mata keinginan pribadi, tetapi karena tuntutan keadaan yang kurang diperhatikan pemerintah daerah setempat. Tidak adanya komunikasi antara warga dengan pemerintah menyebabkan masyarakat di dalam kawasan sulit diarahkan. Puluhan hektar hutan beralih fungsi untuk kepentingan pribadi, selain masyarakat pribumi banyak pula orang-orang luar datang membeli lahan.
Dalam aktivitasnya, ternyata bukan pekerja kayu arang yang mendominasi kawasan ini. Tetapi kegiatan perkebunan besar-besaran, dan penebangan-penebangan liar. Eksploitasi hutan ini disebabkan oleh persaingan menguasai lahan karena letak TN Kutai yang strategis yaitu diantara Sangatta dan Bontang. Dua kota yang menarik banyak pencari kerja karena terdapat perusahaan-perusahaan besar. Merambahnya kegiatan semacam ini akibat tidak adanya ketegasan hukum, meskipun sebenarnya telah diketahui pelaku-pelakunya. Persoalan ini juga muncul karena tidak adanya sinkronisasi kebijakan terhadap hutan ini antara pemerintah pusat, Pemda Kaltim, dan Pemda Kutai. Dan dampaknya dirasakan para jagawana yang tidak dapat dekat dengan warga. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar