MK Sosiologi Umum
(KPM 130) Hari/Tanggal: Selasa/18 Sept 2012
Praktikum ke: 3
STRUKTUR INTERAKSI
KELOMPOK ELIT DALAM PEMBANGUNAN
Penelitian di Tiga
Desa Santri
Oleh:
Sunyoto Usman
TOLONG BANTU PERBAIKI
PERTANIAN KAMI
Oleh:
Muhammad Syaifullah

Nama
Praktikan/NRP/Kelas: Arum Safriana Dewi/F24120102/Q04
Nama
Asisten/NRP: Apriliana/H44090027
Ikhtisar Bacaan 1
STRUKTUR INTERAKSI KELOMPOK
ELIT DALAM PEMBANGUNAN
Penelitian di Tiga Desa Santri
Oleh:
Sunyoto Usman
Secara umum orang mengartikan kata elit sebagai sesuatu
yang glamor, penuh dengan kemewahan. Namun dalam sosiologi pengertian elit
adalah mereka yang dalam masyarakat sekitarnya dihormati, menjadi panutan dalam
bertindak dan sebagai sosok yang memiliki pengaruh penting dalam setiap pengambilan
keputusan. Ada dua pendapat tentang lahirnya kelompok elit. Pertama yaitu
pendapat yang meyakini bahwa kelompok elit ada karena anugerah Tuhan, berupa
anugerah kepandaian, kemampuan, dan keterampilan dalam mengatasi masalah.
Pendapat kedua percaya bahwa kelompok elit lahir karena mereka mendominasi dan
menempati posisi penting dalam suatu organisasi sosial.
Di pedesaan, kelompok elit meliputi pamong desa, pemuka
agama, dan petani kaya. Ketiga kelompok elit ini mempunyai peran penting
sebagai perantara antara masyarakat dengan pemerintah. Namun tidak selamanya
semua kelompok elit tersebut berjalan bersama-sama. Dalam kenyataannya, ada
kelompok elit yang menonjol, dan sebagian terkesampingkan. Untuk mengungkap
fenomena tersebut, dilakukan penelitian di tiga desa santri di Jombang, Jawa
Timur yang difokuskan pada struktur interaksi kelompok elit dalam masyarakat
yang kuat menjalankan syariat Islam. Penelitian diorientasikan pada tiga macam
proyek pembangunan, yaitu Supra Insus Padi, Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI),
dan Bantuan Desa. Aspek yang dibahas adalah integritas. Dengan tiga macam
pendekatan, yaitu mencari individu dengan posisi penting dalam masyarakat,
wawancara pengklasifikasian tokoh sebagai panutan masyarakat, dan melihat
langsung tokoh dalam mengambil keputusan. Selanjutnya untuk menghitung data
digunakan sistem network analysis yang
dapat mengidentifikasi peranan para elit.
Berdasarkan hasil network
analysis menunjukkan bahwa kelompok elit yang berkontribusi aktif dalam
proyek pembangunan desa adalah pamong desa. Sedangkan petani kaya dan pemuka
agama kurang menjalin interaksi. Bahkan sejumlah elit pemuka agama terisolir. Untuk
derajat integrasi, pamong desa dan sebagian petani kaya menduduki posisi
unggul. Sedangkan derajat integrasi pemuka agama adalah nol.
Hasil penelitian tersebut menggambarkan betapa dominannya
tokoh pimpinan formal dalam pembangunan wilayah dan terkesampingkannya pemuka
agama sekalipun itu di daerah santri. Hal tersebut juga merupakan cerminan
struktur interaksi dalam kehidupan masyarakat luas. Sehingga jelaslah betapa
beratnya beban bagi pimpinan formal karena menghadapi masyarakat majemuk,
tentunya dengan permasalahan yang jauh lebih kompleks. Oleh karena itu,
interaksi antar kelompok elit perlu diubah agar lebih kompak dan bersama-sama
saling membantu dalam menyelesaikan suatu permasalahan.
Ikhtisar
Bacaan 2
TOLONG
BANTU PERBAIKI PERTANIAN KAMI
Oleh:
Muhammah Syaifullah
Ade Suharso, Kepala Seksi Konservasi
Taman Nasional Kutai wilayah Tanjung Limau bersama beberapa jagawan mengadakan
pertemuan dengan tokoh masyarakat di Kondolo yang berhasil diliput Kompas. Kepala Dusun Kondolo mengatakan
terpaksa membuka hutan untuk kelangsungan hidup masyarakatnya karena pada
umumnya pekerjaan masyarakat Kondolo adalah membuat kayu arang. Pekerjaan yang
tadinya bersawah terhenti karena dilanda kekeringan dan hama tikus dua tahun
terakhir.
Kedatangan para jagawan ini mendapat
perlawanan dari warga. Berbagai tindakan dilakukan warga sebagai upaya menolak
kegiatan Balai Taman Nasional Kutai dalam menyelamatkan kawasan hutan di daerah
ini.
Ade
Suharso berpendapat bahwa aksi membuka hutan bukan semata-mata keinginan
pribadi, tetapi karena tuntutan keadaan yang kurang diperhatikan pemerintah
daerah setempat. Tidak adanya komunikasi antara warga dengan pemerintah
menyebabkan masyarakat di dalam kawasan sulit diarahkan. Puluhan hektar hutan
beralih fungsi untuk kepentingan pribadi, selain masyarakat pribumi banyak pula
orang-orang luar datang membeli lahan.
Dalam
aktivitasnya, ternyata bukan pekerja kayu arang yang mendominasi kawasan ini. Tetapi
kegiatan perkebunan besar-besaran, dan penebangan-penebangan liar. Eksploitasi
hutan ini disebabkan oleh persaingan menguasai lahan karena letak TN Kutai yang
strategis yaitu diantara Sangatta dan Bontang. Dua kota yang menarik banyak
pencari kerja karena terdapat perusahaan-perusahaan besar. Merambahnya kegiatan
semacam ini akibat tidak adanya ketegasan hukum, meskipun sebenarnya telah
diketahui pelaku-pelakunya. Persoalan ini juga muncul karena tidak adanya sinkronisasi
kebijakan terhadap hutan ini antara pemerintah pusat, Pemda Kaltim, dan Pemda
Kutai. Dan dampaknya dirasakan para jagawana yang tidak dapat dekat dengan
warga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar