Senin, 12 November 2012


http://pimpi.event.ipb.ac.id/2012/11/06/seminar-pertanian-indonesia-turut-hadirkan-jusuf-kalla/

http://pimpi.event.ipb.ac.id/ketentuan-kompetisi/kompetisi-teknologi-pertanian-tepat-guna/

PIMPI IPB 2012


Resume Sosum


MK Sosiologi Umum (KPM 130)        Hari/Tanggal: Kamis/11 Okt 2012
     Praktikum ke: 6

MODEL KELEMBAGAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN HUTAN ALAM PRODUKSI
Oleh: Djuhendi Tadjudin
dan
SISTEM BAGI HASIL DI JAWA TENGAH
Penelitian Hukum Pemilikan Tanah di Sebuah Daerah Pertanian yang Penduduknya Sangat Padat
Oleh: Warner Roell

Nama Praktikan/NRP/Kelas: Arum Safriana Dewi/F24120102/Q04.1
Nama Asisten/NRP: Apriliana/H44090027
 

Ikhtisar Bacaan 1
MODEL KELEMBAGAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN HUTAN ALAM PRODUKSI
Oleh: Djuhendi Tadjudin        
1.     Situasi Pengelolaan Saat Ini
Pemakaian baju hitam-hitam orang Badui Luar di Kanekes dijadikan gambaran pengelolaan sumberdaya hutan yang melokal ditengah-tengah kehidupan yang mengglobal. Menurut Kartodihardjo (1999) kebijakan pengelolaan hutan saat ini mengedepankan target hasil kayu tanpa memikirkan kerusakan lingkungan sebagai akibat dari eksploitasi.
2.     Sengketa Pengelolaan
Pengelolaan sumberdaya hutan telah menimbulkan sengketa dalam tatanilai, hak pemilikan, dan model pengelolaan. Sengketa tersebut muncul karena mereka memandang dari sudut pandang mereka masing-masing yang menurutnya benar. Padahal pengelolaan oleh masyarakat, swasta maupun pemerintah sama-sama telah turut andil dalam kerusakan sumberdaya hutan. Perbedaan sudut pandang dari masing-masing pihak tersebut menginspirasi lahirnya hutan kemasyarakatan tawaran pemerintah (HKM) yang merupakan wujud pengelolaan hutan yang mengakomodasikan masyarakat secara luas tanpa mengabaikan tujuan-tujuan pelestarian. Sedangkan untuk mencapai tujuan pengelolaan hutan produksi perlu pemberian insentif terlebih dahulu kepada masyarakat sehingga mereka tergugah untuk mengelola sumberdaya secara bijaksana, sebagaimana dikatakan oleh Thomson dan Freudenberger (1997).
3.     Kelembagaan Pengelolaan Hutan
Bagaimanapun formatnya, unsur kelembagaan dalam pengelolaan sumberdaya sebaiknya mengandung unsur yuridik yang mengharuskan kejelasan sumberdaya hutan yang mana dan siapa yang akan mengelolanya; unsur aturan main meliputi siapa masyarakat pengguna, kapan dan bagaimana pengelolaannya harus jelas; dan unsur aturan perwakilan yang mengatur bagaimana aturan main dijalankan dan mengatur hak-hak masyarakat dalam mengambil keputusan pada batas-batas tingkatannya. Kelembagaan pengelolaan hutan harus sesuai dengan karakteristik sumberdaya hutan, karakteristik masyarakat pengguna dan masyarakat sekitarnya. Sehingga memunculkan suatu ciri khas tersendiri yang membedakan pengelolaan sumberdaya di setiap daerah. Meskipun pemerintah dinilai lebih mengenal sumberdaya dan masyarakat penggunanya namun tidak menutup kemungkinan ada ruang bagi masyarakat untuk menjadi pengelola sumberdaya. Karena ruang itu bersifat universal.

Ikhitisar Bacaan 2
SISTEM BAGI HASIL DI JAWA TENGAH
Penelitian Hukum Pemilikan Tanah di Sebuah Daerah Pertanian yang Penduduknya Sangat Padat
Oleh: Warner Roell
1.     Data Penelitian
Tahun 1969 dilakukan penelitian tentang hukum pemilikan tanah di kabupaten Klaten, Jawa Tengah dengan jumlah penduduk terpadat di Jawa. Studi perbandingan dilakukan di Desa Sukohardjo di dekatnya. Berdasarkan Undang-Undang Agraria Tahun 1990, diharuskan petani mengolah sendiri tanah pertaniannya. Namun hasil penelitian menunjukkan lebih dari 50% petani adalah petani penggarap bagi hasil dengan hasil yang diterima berkisar 30%-40%. Sedangkan data berdasarkan sensus pertanian tahun 1963 menyebutkan bahwa pengolah tanah oleh orang lain berjumlah 17% dan 24% untuk Jawa Tengah. Perbedaan data tersebut disebabkan tidak memadainya statistik Indonesia, banyak metode-metode pengkuantitatifan yang tidak akurat.
2.     Penyebab Sistem Bagi Hasil
Bersawah merupakan pekerjaan alternatif bagi mereka yang tidak lolos dalam dunia industri. Dengan jumlah penduduk yang terus meningkat sedangkan lahan tetap, mengakibatkan munculnya kontrak-kontrak sistem bagi hasil oleh penduduk pertanian yang tidak memiliki tanah.
3.     Bentuk-Bentuk Dasar Bagi Hasil
Bentuk-bentuk bagi hasil antara lain: sistem maro (garap separuh, agi separuh), sistem mertelu (bagi tiga garapan : bagi tiga hasil), sistem mrapat (bagi empat garapan : bagi empat hasil). Sistem bagi hasil yang umum digunakan masyarakat Klaten dan sekitarnya adalah tipe sistem maro. Kekurangan dari sistem bagi hasil ini adalah banyaknya pembayaran-pembayaran kepada pemilik tanah baik berupa uang muka ataupun hasil bumi yang semakin memperkecil pendapatan penggarap. Selain itu bunga yang tinggi saat pengambilan kredit menyebabkan penggarap terebak utang. Oleh karena itu sistem bagi hasil di Jawa ini perlu dihapuskan untuk menyelamatkan kehidupan para petani, terutama petani penggarap.

Resume dan Analisis Sosum


MK Sosiologi Umum (KPM 130)        Hari/Tanggal: Kamis/04 Okt 2012
     Praktikum ke: 4

OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN SEDERHANAKAN BUDAYA BATAK
Oleh: Arbain Rambey
dan
KEHIDUPAN SUKU DAYAK KENYAH DAN MODANG DEWASA INI
Inventarisasi Sebuah Proses Pemiskinan
Oleh: Franky Raden

Nama Praktikan/NRP/Kelas: Arum Safriana Dewi/F24120102/Q04.1
Nama Asisten/NRP: Apriliana/H44090027
 

Ikhtisar Bacaan 1
OMPU MONANG NAPITUPULU INGIN SEDERHANAKAN BUDAYA
 BATAK
Oleh: Arbain Rambey
1.    Mengenal Suku Batak
            Di wilayah Sumatera Utara sekitar Danau Toba terdapat suku Batak yang terdiri atas beberapa sub-etnis antara lain Batak Toba, Batak Angkola, Batak Mandailing, Batak Simalungun, Batak Pakpak (atau Dairi) dan Batak Karo. Namun orang awam mengartikan sub-etnis Batak Toba sebagai suku Batak itu sendiri. Bahasa yang digunakan oleh sub-etnik Batak Toba adalah Bona Pasogit. Terdapat sebuah organisasi kesukuan atau Pertungkoan Batak Toba yang disebut Parbato, berdiri pada bulan Agustus 1997 dan diketuai oleh Ompu Monang Napitupulu. Pria kelahiran Silaen, Sumut, 2 Desember 1939 ini memasang iklan yang berisi ajakan untuk mengusir perusahaan yang merusak lingkungan Bona Pasogit. Iklan tersebut menjadi top trending sebuah surat kabar masyarakat Medan selama satu pekan.
2.    Kebudayaan Suku Batak
            Terdapat banyak kebudayaan dalam suku Batak, baik kebudayaan yang dinilai positif maupun negatif. Kebudayaan positif misalnya budaya mengganti nama setelah bercucu, karena kehadiran cucu dinilai berkah dan rahmat yang luar biasa. Kebudayaan positif lainnya yaitu saat perkawinan. Semua orang yang diundang merasa penting dan memiliki kekerabatan yang sangat dekat dengan mempelai sehingga memunculkan rasa tanggung jawab yang besar terhadap anak mempelai kelak.
            Sedangkan kebudayaan negatif yaitu penghamburan uang dan waktu dalam pernikahan karena acara terlalu bertele-tele dan dijadikan ajang persaingan gengsi. Pemborosan uang juga terjadi dalam pembangunan makam.
Untuk mengatasi masalah tersebut, sebagai ketua Parbato, Ompu Monang memberikan contoh nyata yaitu menyelenggarakan acara sederhana pada pernikahan anak perempuannya, tetapi tetap masih dalam adat Batak Toba.

Ikhtisar Bacaan 2
KEHIDUPAN SUKU DAYAK KENYAH DAN MODANG DEWASA INI
Inventarisasi Sebuah Proses Pemiskinan
Oleh: Franky Raden
1.    Awal berpindahnya Suku Dayak
Suku Dayak Kenyah dan Modang terletak di Kecamatan Ancalong, Kabupaten Kutai, Kota Tenggarong. Pada tahun 30-an masuk agama Kristiani yang dibawa Belanda dan mengubah sebagian penduduk akan kepercayaan asli mereka. Dan pemeluk agama baru mulai meninggalkan daerah mereka menuju kota. Ada pula suku lain dari Kutai, Bugis, dan Toraja dengan jumlah yang sangat sedikit namun mampu menguasai perekonomian suku Dayak.
2.    Kehidupan baru Suku Dayak
Kesadaran akan pentingnya perekonomian mendadak muncul di kalangan Dayak. Namun kesadaran itu juga menjadi titik awal proses pemiskinan. Pertama, penguasa arus perekonomian adalah para tengkulak dan suku pendatang dari Kutai, Bugis, dan Toraja, sedangkan suku Dayak hanya mengikuti permainan mereka saja. Kedua, budaya konsumtif terhadap barang-barang kota. Dan terkikisnya kebudayaan serta kesenian asli suku Dayak akibat modernisasi. Karena itu muncullah penjualan nilai-nilai kultur suku kepada turis-turis asing. Sebagaimana juga dilakukan oleh suku Nias dan Bali.
3.    Refleksi bagi bangsa Indonesia
Kasus pada ketiga suku tersebut adalah refleksi bagi bangsa Indonesia yang mudah tergiur oleh sesuatu hal baru dan akhirnya menjatuhkan bangsa sendiri. Di sisi lain ada pula suku Dayak yang mampu mempertahankan tradisi mereka. Meskipun menjadi penduduk termiskin, namun ada nilai tambah tersendiri yaitu ketahanan yang kuat karena tradisi kebudayaan yang dijunjung tinggi. Hal ini juga harus dijadikan refleksi bagi bangsa Indonesia yaitu agar ketahanan nasional kuat perlu upaya mempertahankan nilai-nilai khas bangsa Indonesia sendiri. 

Analisis Bacaan 1
Unsur
Idiil
Aktivitas
Fisik
Bahasa
Gagasan penyampaian pesan
Berkomunikasi, Penyampaian iklan melalui surat kabar
Bahasa Bona Pasogit, surat kabar
Sistem Teknologi
Memudahkan pekerjaan
Memanfaatkan media massa
Surat kabar
Sistem Ekonomi
Memenuhi kebutuhan
Jual beli kain ulos untuk acara pernikahan
Uang, kain ulos
Organisasi sosial
Menyelesaikan masalah bersama
Seminar Parbato
Hasil seminar yang belum ada tindakan nyata
Sistem Pengetahuan
Mengetahui informasi
Sekolah
Banyak dokter dari Batak Toba
Kesenian
Mempertahankan kebudayaan
Tradisi mengganti nama setelah bercucu, acara pengulosan dan nasihat
Nama baru, kain ulos, nasihat
Sistem Religi
-
-
-

Analisis Bacaan 2
Unsur
Idiil
Aktivitas
Fisik
Bahasa
Gagasan penyampaian pesan
Berkomunikasi
Bahasa lisan
Sistem Teknologi
Memudahkan pekerjaan
Menggunakan barang elektronik
Tape recorder, kaset, radio
Sistem Ekonomi
Memenuhi kebutuhan
Membeli barang-barang
Baju, jam tangan, mesin jahit,tape recorder
Organisasi Sosial
Membentuk kesatuan untuk kepentingan kelompok
Menguasai pasar perekonomian suku Dayak
Tengkulak, suku Bugis, Kutai dan Toraja
Sistem Pengetahuan
Memajukan penduduk dengan informasi
Modernisasi sebagian suku Dayak
Gaya hidup modern
Kesenian
Mempertahankam kebudayaan
Suku Dayak Umak Tau berkumpul mempertahankan tradisi.
Suku Dayak Umak Tau, Tradisi
Sistem Religi
Percaya kepada Tuhan YME
Memeluk agama Kristiani
Agama Kristiani

Resume Sosum


MK Sosiologi Umum (KPM 130)        Hari/Tanggal: Selasa/18 Sept 2012
     Praktikum ke: 3

STRUKTUR INTERAKSI KELOMPOK ELIT DALAM PEMBANGUNAN
Penelitian di Tiga Desa Santri
Oleh: Sunyoto Usman

TOLONG BANTU PERBAIKI PERTANIAN KAMI
Oleh: Muhammad Syaifullah

Nama Praktikan/NRP/Kelas: Arum Safriana Dewi/F24120102/Q04
Nama Asisten/NRP: Apriliana/H44090027
 

Ikhtisar Bacaan 1
STRUKTUR INTERAKSI KELOMPOK ELIT DALAM PEMBANGUNAN
Penelitian di Tiga Desa Santri
Oleh: Sunyoto Usman

Secara umum orang mengartikan kata elit sebagai sesuatu yang glamor, penuh dengan kemewahan. Namun dalam sosiologi pengertian elit adalah mereka yang dalam masyarakat sekitarnya dihormati, menjadi panutan dalam bertindak dan sebagai sosok yang memiliki pengaruh penting dalam setiap pengambilan keputusan. Ada dua pendapat tentang lahirnya kelompok elit. Pertama yaitu pendapat yang meyakini bahwa kelompok elit ada karena anugerah Tuhan, berupa anugerah kepandaian, kemampuan, dan keterampilan dalam mengatasi masalah. Pendapat kedua percaya bahwa kelompok elit lahir karena mereka mendominasi dan menempati posisi penting dalam suatu organisasi sosial.
Di pedesaan, kelompok elit meliputi pamong desa, pemuka agama, dan petani kaya. Ketiga kelompok elit ini mempunyai peran penting sebagai perantara antara masyarakat dengan pemerintah. Namun tidak selamanya semua kelompok elit tersebut berjalan bersama-sama. Dalam kenyataannya, ada kelompok elit yang menonjol, dan sebagian terkesampingkan. Untuk mengungkap fenomena tersebut, dilakukan penelitian di tiga desa santri di Jombang, Jawa Timur yang difokuskan pada struktur interaksi kelompok elit dalam masyarakat yang kuat menjalankan syariat Islam. Penelitian diorientasikan pada tiga macam proyek pembangunan, yaitu Supra Insus Padi, Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI), dan Bantuan Desa. Aspek yang dibahas adalah integritas. Dengan tiga macam pendekatan, yaitu mencari individu dengan posisi penting dalam masyarakat, wawancara pengklasifikasian tokoh sebagai panutan masyarakat, dan melihat langsung tokoh dalam mengambil keputusan. Selanjutnya untuk menghitung data digunakan sistem network analysis yang dapat mengidentifikasi peranan para elit.
Berdasarkan hasil network analysis menunjukkan bahwa kelompok elit yang berkontribusi aktif dalam proyek pembangunan desa adalah pamong desa. Sedangkan petani kaya dan pemuka agama kurang menjalin interaksi. Bahkan sejumlah elit pemuka agama terisolir. Untuk derajat integrasi, pamong desa dan sebagian petani kaya menduduki posisi unggul. Sedangkan derajat integrasi pemuka agama adalah nol.
Hasil penelitian tersebut menggambarkan betapa dominannya tokoh pimpinan formal dalam pembangunan wilayah dan terkesampingkannya pemuka agama sekalipun itu di daerah santri. Hal tersebut juga merupakan cerminan struktur interaksi dalam kehidupan masyarakat luas. Sehingga jelaslah betapa beratnya beban bagi pimpinan formal karena menghadapi masyarakat majemuk, tentunya dengan permasalahan yang jauh lebih kompleks. Oleh karena itu, interaksi antar kelompok elit perlu diubah agar lebih kompak dan bersama-sama saling membantu dalam menyelesaikan suatu permasalahan.

Ikhtisar Bacaan 2
TOLONG BANTU PERBAIKI PERTANIAN KAMI
Oleh: Muhammah Syaifullah

            Ade Suharso, Kepala Seksi Konservasi Taman Nasional Kutai wilayah Tanjung Limau bersama beberapa jagawan mengadakan pertemuan dengan tokoh masyarakat di Kondolo yang berhasil diliput Kompas. Kepala Dusun Kondolo mengatakan terpaksa membuka hutan untuk kelangsungan hidup masyarakatnya karena pada umumnya pekerjaan masyarakat Kondolo adalah membuat kayu arang. Pekerjaan yang tadinya bersawah terhenti karena dilanda kekeringan dan hama tikus dua tahun terakhir.
            Kedatangan para jagawan ini mendapat perlawanan dari warga. Berbagai tindakan dilakukan warga sebagai upaya menolak kegiatan Balai Taman Nasional Kutai dalam menyelamatkan kawasan hutan di daerah ini.
Ade Suharso berpendapat bahwa aksi membuka hutan bukan semata-mata keinginan pribadi, tetapi karena tuntutan keadaan yang kurang diperhatikan pemerintah daerah setempat. Tidak adanya komunikasi antara warga dengan pemerintah menyebabkan masyarakat di dalam kawasan sulit diarahkan. Puluhan hektar hutan beralih fungsi untuk kepentingan pribadi, selain masyarakat pribumi banyak pula orang-orang luar datang membeli lahan.
Dalam aktivitasnya, ternyata bukan pekerja kayu arang yang mendominasi kawasan ini. Tetapi kegiatan perkebunan besar-besaran, dan penebangan-penebangan liar. Eksploitasi hutan ini disebabkan oleh persaingan menguasai lahan karena letak TN Kutai yang strategis yaitu diantara Sangatta dan Bontang. Dua kota yang menarik banyak pencari kerja karena terdapat perusahaan-perusahaan besar. Merambahnya kegiatan semacam ini akibat tidak adanya ketegasan hukum, meskipun sebenarnya telah diketahui pelaku-pelakunya. Persoalan ini juga muncul karena tidak adanya sinkronisasi kebijakan terhadap hutan ini antara pemerintah pusat, Pemda Kaltim, dan Pemda Kutai. Dan dampaknya dirasakan para jagawana yang tidak dapat dekat dengan warga. 

Jumat, 09 November 2012

Artikel Pertanian Organik


PERTANIAN ORGANIK
            Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya alam. Terdapat beragam flora dan fauna yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Selain itu Indonesia juga dikenal sebagai Negara agraris karena mata pencaharian utama masyarakat Indonesia adalah bercocok tanam. Dan terdapat beraneka ragam pula tanaman pertanian di Indonesia. Seperti padi yang merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia, holtikultura sayuran dan buah (contoh: brokoli, kubis, jeruk), tanaman perkebunan (contoh: teh, kopi, kelapa), dan rempah-rempah. Semua itu tumbuh subur di tanah Indonesia.
            Namun sangat disayangkan, dewasa ini lahan pertanian Indonesia semakin sempit karena industrialisasi. Tanah hijau berubah menjadi tandus dan gersang, bencana alam pun tak dapat dihindari. Selain itu, hal yang juga memprihatinkan adalah pola pikir masyarakat yang masih sering memandang sebelah mata tentang sektor pertanian. Itulah mengapa output pertanian Indonesia tidak sebanding dengan sumber daya alam yang tersedia. Oleh karena itu, diperlukan suatu langkah untuk memajukan pertanian Indonesia yang ramah lingkungan sehingga tidak membahayakan makhluk hidup di dalamnya. Salah satu solusi yang tak asing lagi adalah pertanian organik.
            Pertanian organik adalah sistem budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian yang aman konsumsi dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Sehingga kelestarian hayati tetap terjaga. Pertanian organik juga diharapkan mampu menciptakan petani yang terampil. Dengan pertanian organik mereka harus dapat memanfaatkan alam seutuhnya. Misalnya, pembuatan pupuk organik seperti pupuk kandang dari kotoran hewan dan pupuk kompos dari dedaunan. Sehingga mereka tidak bergantung pada pupuk kimia dari pemerintah. Dengan demikian mereka dapat mengembangkan sektor pertanian secara mandiri dan aman. Aman karena pada hakikatnya pupuk organik sendiri merupakan keluaran dari setiap budidaya pertanian. Dengan kata lain, pupuk organik merupakan unsur hara makro maupun mikro yang terabaikan namun sangat besar manfaatnya.      Pengolahan pertanian organik didasarkan pada prinsip kesehatan, ekologi, keadilan, dan perlindungan. Yang dimaksud dengan prinsip kesehatan dalam pertanian organik adalah kegiatan pertanian harus memperhatikan kelestarian dan peningkatan kesehatan tanah, tanaman, hewan, bumi, dan manusia sebagai satu kesatuan karena semua komponen tersebut saling berhubungan dan tidak terpisahkan. Pertanian organik juga harus didasarkan pada siklus dan sistem ekologi kehidupan. Untuk mencapai tujuan pertanian organik harus dilakukan pengelolaan secara berhati-hati dan bertanggungjawab melindungi kesehatan manusia baik pada masa kini maupun pada masa depan.
            Pelaksanaan pertanian organik tentu melibatkan berbagai pihak. Mulai dari pemerintah hingga para petani sendiri. Langkah tersebut akan berhasil apabila terdapat hubungan serta komunikasi yang baik di semua kalangan.  Keberhasilan langkah tersebut tentu akan membawa pertanian Indonesia berkualitas di kancah global. Karena pertanian organik juga merupakan salah satu langkah untuk memperbaiki pertanian Indonesia. Kini perkembangan tersebut dapat kita lihat sendiri. Seperti yang diungkapkan Menteri Pertanian Suswono, bahwa saat ini pemerintah Jerman mulai melirik produk pertanian organik Indonesia. Pemerintah Jerman bahkan membuka kesempatan bagi pengusaha Indonesia untuk mengekspor hasil pertanian organik dengan harga lebih mahal. Jerman juga menyatakan berminat mengimpor produk pertanian tropis khususnya buah-buahan tropis
Menurut Suswono, Jerman menawar harga produk pertanian organik Indonesia dua kali lipat dari harga pertanian non-organik. Yang diminati adalah beras organik dan buah seperti manggis. Untuk beras organik, pemerintah akan mendorong petani memproduksi dalam jumlah besar dan memetakan sentra produksinya.
Contoh di atas cukuplah menyadarkan kita bahwa pertanian Indonesia tidak boleh dipandang sebelah mata. Dengan menerapkan pertanian organik, akan membawa perkembangan pada sektor pertanian. Dan perkembangan dalam bidang pertanian akan membawa perkembangan pula pada perekonomian negara. Dengan kata lain, penataan kembali sistem pertanian Indonesia secara otomatis menata kembali sistem perekonomian Indonesia. Karena pertanian adalah identitas Negara Indonesia sebagai negara agraris.



Arum Safriana Dewi_F24120102_9

Laporan Koloid


I.          JUDUL
Pembuatan Koloid dengan Metode Kondensasi dan Dispersi

II.          TUJUAN
1.    Percobaan pembuatan koloid dengan cara kondensasi
2.    Pembuatan koloid dengan cara dispersi

III.          DASAR TEORI
Koloid merupakan suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak antara larutan dan suspensi. Koloid memiliki beberapa sifat, yaitu :
·         Efek tyndall                    : sistem koloid akan menghamburkan cahaya apabila diberikan seberkas cahaya
·         Gerak brown        : partikel koloid bergerak terus-menerus dengan gerak patah-patah/gerak zig-zag
·         Elektroforesis       : partikel koloid dapat bergerak dalam medan listrik
·         Adsorpsi              : partikel koloid memiliki kemampuan menyerap ion atau muatan listrik pada permukaannya
·         Koagulasi             : penggumpalan partikel koloid
·         Dialisis                 : pemisahan campuran koloid dari ion-ion atau partikel terlarut lainnya
System koloid dapat dibuat dengan dua cara, yaitu :
1.    Cara Kondensasi
Larutan sejati (molekul atau ion) bergabung menjadi partikel koloid. Cara ini dapat dilakukan melalui reaksi-reaksi kimia, antara lain :
a)    Reaksi redoks
Reaksi yang disertai perubahan bilangan oksidasi
b)   Hidrolisis
Reaksi suatu zat dengan air
c)    Dekomposisi rangkap
d)   Penggantian pelarut
Contoh       : apabila larutan jenuh kalsium asetat dicampur dengan alkohol akan terbentuk suatu koloid berupa gel

2.    Cara Dispersi
Dengan cara dispersi, partikel kasar dipecah menjadi partikel koloid. Cara dispersi dapat dilakukan secara    :
a)    Cara mekanik
Pembuatan koloid dari butir-butir kasar yang digerus sampai diperoleh tingkat kehalusan tertentu, kemudian diaduk dengan medium dispersi
b)   Cara peptisasi
Pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan dengan  bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecah)
c)    Cara Busur Bredig
Cara ini digunakan untuk membuat sol-sol logam
d)   Cara Atomizer
Pembuatan koloid dari partikel cair menjadi gas menggunakan alat sprayer

IV.          ALAT DAN BAHAN
ALAT      :
1.    Gelas kimia 200 ml
2.    Cawan pembakaran
3.    Tabung reaksi
4.    Senter
5.    Lumpang dan penumbuknya
6.    Spirtus
7.    Sendok, spatula, dan korek api

BAHAN   :
1.    Larutan kalsium asetat jenuh
2.    Alkohol 95 %
3.    Larutan AgNO3 0.1 M
4.    Larutan asam klorida 0.1 M
5.    Gula pasir
6.    Serbuk belerang
7.    Air
8.    Serbuk agar-agar
9.    Minyak tanah
10. Larutan detergen

V.          CARA KERJA
A.   Membuat Koloid dengan metode kondensasi
1.    Penggantian pelarut
a)    Masukkan 7 ml larutan kalsium asetat jenuh ke dalam gelas kimia 200 ml kemudian tambahkan 40 ml alcohol 95 %. Amati gel yang terbentuk!
b)   Masukkan sedikit gel kalsium asetat ke dalam cawan pembakaran, kemudian bakarlah gel tersebut. Amati dan catat apa yang terjadi!
2.    Percampuran larutan-larutan encer
a)    Masukkan sekitar 3 ml larutan AgNO3 0.1 M dan tambahkan larutan asam klorida 0.1 M 5 ml
b)   Homogenkan, amati dan catatlah apa yang terjadi!
B.    Membuat koloid dengan metode dispersi
1.    Pembuatan sol belerang
a)    Geruslah 0.5 sendok gula dan 0.5 sendok serbuk belerang di dalam lumpang dengan menggunakan penumbuk
b)   Ambil 0.5 dari campuran tersebut, kemudian tambahkan 0.5 sendok gula dan geruslah kembali campuran tersebut
c)    Lakukan langkah ke-2 di atas sebanyak dua kali
d)   Ambil 0.5 sendok hasil gerusan yang terakhir kemudian masukkan ke dalam air. Amati campuran yang dihasilkan
e)    Ambil gula dan serbuk yang belum digerus(masing-masing 2 spatula) kemudian masukkan ke dalam tabung reaksi dan tambahkan air. Amati campuran yang dihasilkan dan bandingkan dengan campuran gula-belerang yang telah digerus
f)     Sinarilah campuran campuran tersebut dengan senter, amati dan catatlah apa yang kalian amati.
2.    Pembuatan sol agar-agar
a)    Masukkan 1 spatula serbuk agar-agar ke dalam tabung reaksi yang telah berisi air sekitar sepertiga atau setengah tabung reaksi
b)   Panasi dan aduk dengan spatula agar semua agar-agar melarut
c)    Dinginkan, amati dan catat peristiwa yang terjadi
3.    Emulsi
a)    Masukkan kurang lebih 1 ml minyak tanah dan 5 ml air ke dalam tabung reaksi
b)   Kocoklah tabung reaksi tersebut kuat-kuat
c)    Diamkan tabung tersebut kira-kira 1-3 menit, amati dan catat peristiwa yang terjadi
d)   Teteskan sekitar 25 tetes larutan detergen dan kocok kembali kuat-kuat
e)    Diamkan tabung tersebut kira-kira 1-3 menit, amati dan catat peristiwa yang terjadi

VI.          DATA HASIL PERCOBAAN
Percobaan
Perlakuan
Pengamatan

VII.          ANALISA DATA
Ø  Pencampuran larutan kalsium asetat jenuh dengan alkohol 95% membentuk gel berwarna putih bening. Hal ini menunjukkan adanya pembentukan sistem koloid yaitu dengan cara penggantian pelarut. Setelah gel dibakar akan membentuk serbuk kalsium asetat kembali karena kandungan alkoholnya hilang, dan akan membentuk abu jika terus dibakar
Ø  Pencampuran larutan AgNO3 dengan HCl akan menghasilkan partikel koloid AgCl berwarna putih seperti susu
Ø  Campuran gula dan sulfur yang digerus dalam air akan membentuk sistem koloid yaitu sol belerang, jika campuran tersebut disinari dengan senter maka berkas cahaya akan kelihatan karena system koloid menghamburkan cahaya. Sedangkan pencampuran gula dan sulfur tanpa digerus membentuk suspensi karena yang terlarut dalam air hanya gulanya sedangkan sulfurnya memisah/mengalami sedimentasi
Ø  Agar-agar yang dimasukkan ke dalam air, dididihkan serta didinginkan akan membentuk gel disebut sol agar-agar
Ø  Pada pencampuran minyak tanah dan air, keduanya akan memisah. Air berada di bawah dan minyak tanah diatas. Setelah dimasukkan detergen minyak tanah hilang dan membentuk buih.
  
VIII.          KESIMPULAN
Dari percobaan di atas dapat disimpulkan bahwa      :
Pembuatan koloid dengan cara kondensasi dilakukan dengan reaksi-reaksi kimia, yaitu : Penggantian Pelarut dan Percampuran larutan-larutan encer.
ü pencampuran larutan kalsium asetat dan alkohol 95% membentuk gel. Peencampuran larutan AgNO3 dengan larutan HCl membentuk koloid AgCl.

Pembuatan koloid dengan cara dispersi dilakukan dengan secara mekanik, yaitu: Pembuatan Sol Belerang, Pembuatan Sol Agar-Agar, dan Emulsi.
ü pencampuran gula dengan sulfur akan membentuk sol belerang apabila campuran tersebut digerus menjadi partikel yang lebih halus.
ü Serbuk agar-agar dalam air mendidih akan membentuk sol agar-agar.
ü Detergen yang dimasukkan ke dalam campuran minyak tanah dan air berfungsi sebagai pengelmusi sehingga terbentuk koloid dengan jenis emulsi.