Jumat, 09 November 2012

Artikel Pertanian Organik


PERTANIAN ORGANIK
            Indonesia merupakan Negara yang kaya akan sumber daya alam. Terdapat beragam flora dan fauna yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Selain itu Indonesia juga dikenal sebagai Negara agraris karena mata pencaharian utama masyarakat Indonesia adalah bercocok tanam. Dan terdapat beraneka ragam pula tanaman pertanian di Indonesia. Seperti padi yang merupakan makanan pokok masyarakat Indonesia, holtikultura sayuran dan buah (contoh: brokoli, kubis, jeruk), tanaman perkebunan (contoh: teh, kopi, kelapa), dan rempah-rempah. Semua itu tumbuh subur di tanah Indonesia.
            Namun sangat disayangkan, dewasa ini lahan pertanian Indonesia semakin sempit karena industrialisasi. Tanah hijau berubah menjadi tandus dan gersang, bencana alam pun tak dapat dihindari. Selain itu, hal yang juga memprihatinkan adalah pola pikir masyarakat yang masih sering memandang sebelah mata tentang sektor pertanian. Itulah mengapa output pertanian Indonesia tidak sebanding dengan sumber daya alam yang tersedia. Oleh karena itu, diperlukan suatu langkah untuk memajukan pertanian Indonesia yang ramah lingkungan sehingga tidak membahayakan makhluk hidup di dalamnya. Salah satu solusi yang tak asing lagi adalah pertanian organik.
            Pertanian organik adalah sistem budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian yang aman konsumsi dan tidak menimbulkan pencemaran lingkungan. Sehingga kelestarian hayati tetap terjaga. Pertanian organik juga diharapkan mampu menciptakan petani yang terampil. Dengan pertanian organik mereka harus dapat memanfaatkan alam seutuhnya. Misalnya, pembuatan pupuk organik seperti pupuk kandang dari kotoran hewan dan pupuk kompos dari dedaunan. Sehingga mereka tidak bergantung pada pupuk kimia dari pemerintah. Dengan demikian mereka dapat mengembangkan sektor pertanian secara mandiri dan aman. Aman karena pada hakikatnya pupuk organik sendiri merupakan keluaran dari setiap budidaya pertanian. Dengan kata lain, pupuk organik merupakan unsur hara makro maupun mikro yang terabaikan namun sangat besar manfaatnya.      Pengolahan pertanian organik didasarkan pada prinsip kesehatan, ekologi, keadilan, dan perlindungan. Yang dimaksud dengan prinsip kesehatan dalam pertanian organik adalah kegiatan pertanian harus memperhatikan kelestarian dan peningkatan kesehatan tanah, tanaman, hewan, bumi, dan manusia sebagai satu kesatuan karena semua komponen tersebut saling berhubungan dan tidak terpisahkan. Pertanian organik juga harus didasarkan pada siklus dan sistem ekologi kehidupan. Untuk mencapai tujuan pertanian organik harus dilakukan pengelolaan secara berhati-hati dan bertanggungjawab melindungi kesehatan manusia baik pada masa kini maupun pada masa depan.
            Pelaksanaan pertanian organik tentu melibatkan berbagai pihak. Mulai dari pemerintah hingga para petani sendiri. Langkah tersebut akan berhasil apabila terdapat hubungan serta komunikasi yang baik di semua kalangan.  Keberhasilan langkah tersebut tentu akan membawa pertanian Indonesia berkualitas di kancah global. Karena pertanian organik juga merupakan salah satu langkah untuk memperbaiki pertanian Indonesia. Kini perkembangan tersebut dapat kita lihat sendiri. Seperti yang diungkapkan Menteri Pertanian Suswono, bahwa saat ini pemerintah Jerman mulai melirik produk pertanian organik Indonesia. Pemerintah Jerman bahkan membuka kesempatan bagi pengusaha Indonesia untuk mengekspor hasil pertanian organik dengan harga lebih mahal. Jerman juga menyatakan berminat mengimpor produk pertanian tropis khususnya buah-buahan tropis
Menurut Suswono, Jerman menawar harga produk pertanian organik Indonesia dua kali lipat dari harga pertanian non-organik. Yang diminati adalah beras organik dan buah seperti manggis. Untuk beras organik, pemerintah akan mendorong petani memproduksi dalam jumlah besar dan memetakan sentra produksinya.
Contoh di atas cukuplah menyadarkan kita bahwa pertanian Indonesia tidak boleh dipandang sebelah mata. Dengan menerapkan pertanian organik, akan membawa perkembangan pada sektor pertanian. Dan perkembangan dalam bidang pertanian akan membawa perkembangan pula pada perekonomian negara. Dengan kata lain, penataan kembali sistem pertanian Indonesia secara otomatis menata kembali sistem perekonomian Indonesia. Karena pertanian adalah identitas Negara Indonesia sebagai negara agraris.



Arum Safriana Dewi_F24120102_9

Laporan Koloid


I.          JUDUL
Pembuatan Koloid dengan Metode Kondensasi dan Dispersi

II.          TUJUAN
1.    Percobaan pembuatan koloid dengan cara kondensasi
2.    Pembuatan koloid dengan cara dispersi

III.          DASAR TEORI
Koloid merupakan suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak antara larutan dan suspensi. Koloid memiliki beberapa sifat, yaitu :
·         Efek tyndall                    : sistem koloid akan menghamburkan cahaya apabila diberikan seberkas cahaya
·         Gerak brown        : partikel koloid bergerak terus-menerus dengan gerak patah-patah/gerak zig-zag
·         Elektroforesis       : partikel koloid dapat bergerak dalam medan listrik
·         Adsorpsi              : partikel koloid memiliki kemampuan menyerap ion atau muatan listrik pada permukaannya
·         Koagulasi             : penggumpalan partikel koloid
·         Dialisis                 : pemisahan campuran koloid dari ion-ion atau partikel terlarut lainnya
System koloid dapat dibuat dengan dua cara, yaitu :
1.    Cara Kondensasi
Larutan sejati (molekul atau ion) bergabung menjadi partikel koloid. Cara ini dapat dilakukan melalui reaksi-reaksi kimia, antara lain :
a)    Reaksi redoks
Reaksi yang disertai perubahan bilangan oksidasi
b)   Hidrolisis
Reaksi suatu zat dengan air
c)    Dekomposisi rangkap
d)   Penggantian pelarut
Contoh       : apabila larutan jenuh kalsium asetat dicampur dengan alkohol akan terbentuk suatu koloid berupa gel

2.    Cara Dispersi
Dengan cara dispersi, partikel kasar dipecah menjadi partikel koloid. Cara dispersi dapat dilakukan secara    :
a)    Cara mekanik
Pembuatan koloid dari butir-butir kasar yang digerus sampai diperoleh tingkat kehalusan tertentu, kemudian diaduk dengan medium dispersi
b)   Cara peptisasi
Pembuatan koloid dari butir-butir kasar atau dari suatu endapan dengan  bantuan suatu zat pemeptisasi (pemecah)
c)    Cara Busur Bredig
Cara ini digunakan untuk membuat sol-sol logam
d)   Cara Atomizer
Pembuatan koloid dari partikel cair menjadi gas menggunakan alat sprayer

IV.          ALAT DAN BAHAN
ALAT      :
1.    Gelas kimia 200 ml
2.    Cawan pembakaran
3.    Tabung reaksi
4.    Senter
5.    Lumpang dan penumbuknya
6.    Spirtus
7.    Sendok, spatula, dan korek api

BAHAN   :
1.    Larutan kalsium asetat jenuh
2.    Alkohol 95 %
3.    Larutan AgNO3 0.1 M
4.    Larutan asam klorida 0.1 M
5.    Gula pasir
6.    Serbuk belerang
7.    Air
8.    Serbuk agar-agar
9.    Minyak tanah
10. Larutan detergen

V.          CARA KERJA
A.   Membuat Koloid dengan metode kondensasi
1.    Penggantian pelarut
a)    Masukkan 7 ml larutan kalsium asetat jenuh ke dalam gelas kimia 200 ml kemudian tambahkan 40 ml alcohol 95 %. Amati gel yang terbentuk!
b)   Masukkan sedikit gel kalsium asetat ke dalam cawan pembakaran, kemudian bakarlah gel tersebut. Amati dan catat apa yang terjadi!
2.    Percampuran larutan-larutan encer
a)    Masukkan sekitar 3 ml larutan AgNO3 0.1 M dan tambahkan larutan asam klorida 0.1 M 5 ml
b)   Homogenkan, amati dan catatlah apa yang terjadi!
B.    Membuat koloid dengan metode dispersi
1.    Pembuatan sol belerang
a)    Geruslah 0.5 sendok gula dan 0.5 sendok serbuk belerang di dalam lumpang dengan menggunakan penumbuk
b)   Ambil 0.5 dari campuran tersebut, kemudian tambahkan 0.5 sendok gula dan geruslah kembali campuran tersebut
c)    Lakukan langkah ke-2 di atas sebanyak dua kali
d)   Ambil 0.5 sendok hasil gerusan yang terakhir kemudian masukkan ke dalam air. Amati campuran yang dihasilkan
e)    Ambil gula dan serbuk yang belum digerus(masing-masing 2 spatula) kemudian masukkan ke dalam tabung reaksi dan tambahkan air. Amati campuran yang dihasilkan dan bandingkan dengan campuran gula-belerang yang telah digerus
f)     Sinarilah campuran campuran tersebut dengan senter, amati dan catatlah apa yang kalian amati.
2.    Pembuatan sol agar-agar
a)    Masukkan 1 spatula serbuk agar-agar ke dalam tabung reaksi yang telah berisi air sekitar sepertiga atau setengah tabung reaksi
b)   Panasi dan aduk dengan spatula agar semua agar-agar melarut
c)    Dinginkan, amati dan catat peristiwa yang terjadi
3.    Emulsi
a)    Masukkan kurang lebih 1 ml minyak tanah dan 5 ml air ke dalam tabung reaksi
b)   Kocoklah tabung reaksi tersebut kuat-kuat
c)    Diamkan tabung tersebut kira-kira 1-3 menit, amati dan catat peristiwa yang terjadi
d)   Teteskan sekitar 25 tetes larutan detergen dan kocok kembali kuat-kuat
e)    Diamkan tabung tersebut kira-kira 1-3 menit, amati dan catat peristiwa yang terjadi

VI.          DATA HASIL PERCOBAAN
Percobaan
Perlakuan
Pengamatan

VII.          ANALISA DATA
Ø  Pencampuran larutan kalsium asetat jenuh dengan alkohol 95% membentuk gel berwarna putih bening. Hal ini menunjukkan adanya pembentukan sistem koloid yaitu dengan cara penggantian pelarut. Setelah gel dibakar akan membentuk serbuk kalsium asetat kembali karena kandungan alkoholnya hilang, dan akan membentuk abu jika terus dibakar
Ø  Pencampuran larutan AgNO3 dengan HCl akan menghasilkan partikel koloid AgCl berwarna putih seperti susu
Ø  Campuran gula dan sulfur yang digerus dalam air akan membentuk sistem koloid yaitu sol belerang, jika campuran tersebut disinari dengan senter maka berkas cahaya akan kelihatan karena system koloid menghamburkan cahaya. Sedangkan pencampuran gula dan sulfur tanpa digerus membentuk suspensi karena yang terlarut dalam air hanya gulanya sedangkan sulfurnya memisah/mengalami sedimentasi
Ø  Agar-agar yang dimasukkan ke dalam air, dididihkan serta didinginkan akan membentuk gel disebut sol agar-agar
Ø  Pada pencampuran minyak tanah dan air, keduanya akan memisah. Air berada di bawah dan minyak tanah diatas. Setelah dimasukkan detergen minyak tanah hilang dan membentuk buih.
  
VIII.          KESIMPULAN
Dari percobaan di atas dapat disimpulkan bahwa      :
Pembuatan koloid dengan cara kondensasi dilakukan dengan reaksi-reaksi kimia, yaitu : Penggantian Pelarut dan Percampuran larutan-larutan encer.
ü pencampuran larutan kalsium asetat dan alkohol 95% membentuk gel. Peencampuran larutan AgNO3 dengan larutan HCl membentuk koloid AgCl.

Pembuatan koloid dengan cara dispersi dilakukan dengan secara mekanik, yaitu: Pembuatan Sol Belerang, Pembuatan Sol Agar-Agar, dan Emulsi.
ü pencampuran gula dengan sulfur akan membentuk sol belerang apabila campuran tersebut digerus menjadi partikel yang lebih halus.
ü Serbuk agar-agar dalam air mendidih akan membentuk sol agar-agar.
ü Detergen yang dimasukkan ke dalam campuran minyak tanah dan air berfungsi sebagai pengelmusi sehingga terbentuk koloid dengan jenis emulsi.